Quantcast

Friday, February 14, 2014

Ibu-ibu yang membuatku malu

Lagoi Bay, 10 February 2014

   Gaya hidup bahagia
Menanam rumput

  Malam itu jam menunjukkan pukul 20.30, saya melewati sebuah lokasi proyek. Sejenak saya berhenti untuk menemui seorang mandor penanaman rumput untuk berbagi cerita sembari melihat-lihat pekerjaan anak buahnya.
   Pengawas itu seorang laki-laki berumur 63 tahun, ya tidak salah lagi 63 tahun. Beliau masih sangat kuat untuk bekerja di lapangan, mencangkul, menyiram tanaman dan kerjaan lain. Sementara anak buahnya ada sekitar belasan orang yang kebanyakan ibu-ibu rumah tangga. Waktu itu mereka sedang menanam rumput jepang (Zoysia japonica) di tepian sebuah danau buatan.

   Ada yang bertugas mengangkut bibit rumput dengan gerobak, mengangkut pasir/tanah hitam, menyekop tanah dan beberapa pekerjaan yang selayaknya di kerjakan oleh kaum pria.
Gaya Hidup bahagia
Menanam rumput
   Ternyata mereka, para ibu-ibu itu tinggalnya cukup jauh dari lokasi kerja. Sekitar 25 s/d 40 km dari rumah mereka. Butuh waktu paling cepat 45 menit untuk mencapai lokasi kerja. Ada mobil antar jemput sih, tap ada empat orang di antara mereka yang nekat membawa kendaraan bermotor sendiri.
   Ibu-ibu bener-benar tangguh. Bayangkan saja, mereka berangkat dari rumah jam 06.30 pagi lalu jadwal pulangnya adalah jam 22.00. rata-rata mereka sampai rumah kembali sudah jam 23.30 malam.
   Menyadari hal ini jadi timbul pertanyaan dalam benak saya 'Gimana cara mereka mengurus anak ya?'. Belum masaknya lagi, mandi, nyuci baju. Ah terlalu sulit untuk membayangkannya.
   Trus soal gaji jika di hitung-hitung dengan jam kerja normal saja kadang masih di bawah standar gaji dari pemerintah. Jujur ibu-ibu itu telah membuat saya merasa malu dengan cara saya menghabiskan waktu. Mereka bisa seperti itu. Sementara kita yang memiliki waktu longgar, aktifitas yang lebih ringan dan penghasilan yang lebih memadai malah seringkali lupa untuk bersyukur dan sering mengeluh dengan keadaan.
   Mereka merasa capek itu sudah pasti, tapi terlihat kebahagiaan di wajah-wajah mereka. Adaketulusan disana. Mereka ramah, tidak sombong dan baik hati serta seringkali mau berbagi terhadap sesama. Sedangkan kita?
   Apakah telah ada rasa malu yang menimbulkan rasa syukur kita di hari ini? Jawaban ada pada diri kita masing-masing.

1 comment:

Silahkan meninggalkan komentar yang relevan dengan tema artikel, di larang spam, no sara. Yang tidak sopan akan langsung di hapus system.
Terimakasih.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...